‘Jurus’ IndiHome Tingkatkan Kontribusi Untuk Telkom Group

IndiHome (Indihome)

IndiHome sebagai penyedia layanan jaringan internet dan layanan digital dari PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk mencatatkan 9,2 juta pelanggan sepanjang 2022 dan menargetkan mencapai 10,2 juta pelanggan tahun ini. Besarnya jumlah penduduk Indonesia dan pengguna internet memberikan potensi yang besar untuk digarap IndiHome, dan memperluas konektivitas.

Setidaknya ada 30 juta rumah tangga di Indonesia yang berpotensi bagi perusahaan. VP Investor Relation Telkom, Edwin Sebayang mengatakan, pertumbuhan layanan internet rumah atau home broadband masih sangat luas, sehingga potensi pasar IndiHome pun terbuka lebar.

“Ini berarti masih ada potensi bertumbuh sebanyak dua kali lipat dengan bisnis konvergensi, atau penggabungan Telkomsel dan IndiHome,” jelas Edwin.

Apalagi, hingga akhir 2022, IndiHome memberikan kontribusi besar untuk induknya PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk. Tahun lalu IndiHome menyumbang pendapatan sebesar Rp 28 triliun kepada Telkom, atau setara dengan 19% dari total keseluruhan pendapatan.

Adapun 90% pendapatan IndiHome ini dikontribusi pelanggan segmen consumer dan selebihnya dari segmen enterprise. IndiHome menutup 2022 dengan pertumbuhan pelanggan sebesar 7,1% dari 2021 menjadi 9,2 juta pelanggan, 63% di antaranya merupakan pelanggan Dual Play dan 37% pelanggan Triple Play. ARPU IndiHome stabil pada kisaran harga Rp 268 ribu, didukung oleh pendapatan dari add- ons yang tumbuh 10,4% YoY.

Belum lama ini, VP Marketing Management PT Telkom Indonesia Tbk. E Kurniawan menargetkan layanan fixed broadband, IndiHome, bisa mencapai 10,2 juta. Perusahaan menargetkan jumlah pelanggan bisa bertambah 600 ribu hingga 1 juta pelanggan di 2023.

Dia optimistis penambahan lebih dari 1 juta pelanggan bisa tercapai, karena penetrasi internet fixed broadband masih kecil di Indonesia. Kurniawan menyebutkan, berdasarkan survei McKinsey baru 15% pelanggan dari fixed broadband di Indonesia.

“Jadi masih sangat kecil dibandingkan potensinya, masih ada 50 jutaan hingga 70 jutaan pelanggan. Di 2023 hingga 2027 kami masih cukup signifikan untuk bisnis broadband,” kata dia.

Selain itu, ia juga menyebutkan meski pandemi Covid-19 telah lewat, jumlah penambahan pelanggan fixed broadband trennya terus bertambah, dari 3.500 per hari, menjadi 4.700 per hari.

“Saya rasa akan dapat lagi 1,5 juta registrasi di 2023, dengan target (pelanggan baru) 600 ribu, saya pikir akan terlampaui di 2023 ini,” pungkas Kurniawan.

IndiHome punya dua fokus, yakni memberikan layanan terbaik dan ada tanggung jawab broadband bukan hanya menjangkau perkotaan, tapi di pulau-pulau terluar.

Hingga penghujung 2022, IndiHome telah menjangkau 499 dari 514 kota/kabupaten. Dengan ini penetrasi layanan IndiHome secara nasional telah mencapai 97%.

IndiHome pun menyasar segmen-segmen add on, sehingga pelanggan bisa menikmati internet lancar dengan harga terjangkau.

Telkom sendiri, ditargetkan bisa menjangkau seluruh wilayah lewat tiga teknologi dari IndiHome, Orbit, dan Telkomsel. Ketiganya saling melengkapi agar layanan yang diberikan lebih maksimal dan bisa diandalkan, khususnya untuk IndiHome dan Orbit.

Meski demikian, masih banyak tantangan yang menghadang bisnis internet broadband di tanah air. Pasalnya, adopsi home broadband atau koneksi internet rumahan masih rendah, atau di kisaran 15%. Padahal, rata-rata negara di dunia adopsi internet broadband sudah mencapai 40%.

Namun, tantangan tersebut justru membuka peluang tersendiri bagi para pelaku industri di bidang ini. Pasalnya gap adopsi internet rumahan ini memiliki potensi besar untuk digarap, apalagi faktor yang menyebabkan rendahnya penetrasi home broadband adalah karena layanan ini yang belum terjangkau.

Direktur keuangan dan Manajemen Risiko Telkom, Heri Supriadi, menyebut salah satu inovasi yang dilakukan, yakni transformasi pertama tentang fixed mobile convergence (FMC). Mengenai transformasi ini, Telkom dan Telkomsel pun telah menandatangani Perjanjian Pemisahan Bersyarat (Conditional Spin-off Agreement/CSA) untuk mengintegrasikan IndiHome ke Telkomsel beberapa waktu lalu.

Isi CSA tersebut meliputi pengintegrasian Indihome, yang divaluasi senilai Rp 58,3 triliun ke dalam Telkomsel. Kemudian, Telkomsel akan menerbitkan saham baru bagi Telkom.

“Sektor konsumer akan kami satukan di Telkomsel. Jadi, IndiHome akan kami merge dengan Telkomsel. Ini membuat seamless experience pada customer di mana pun mereka berada dengan teknologi yang kami gunakan,” jelas Heri kepada CNBC Indonesia belum lama ini.

Dia menjelaskan penggabungan bisnis semacam ini kerap dilakukan perusahaan telekomunikasi terbesar dunia. Menurutnya, hampir semuanya menggabungkan bisnis fix broadband dan mobile broadband sebab penggabungan kedua bisnis akan menghasilkan keuntungan dalam beberapa hal.

Untuk Telkom, keuntungan transformasi FMC adalah akan menghasilkan efisiensi dari sisi capital expenditures atau belanja modal. Selain itu, kedua bisnis tersebut saling menggantikan, di mana banyak konsumen akan menggunakan mobile Telkomsel di luar rumah dan menggunakan fix lewat wifi Indihome di dalam rumah.

Keuntungan berikutnya adalah penambahan kemampuan Telkom untuk menjajaki lebih banyak pelanggan yang selama ini belum terlayani. Indonesia sendiri memiliki 60-70 juta rumah tangga.

Menurutnya, yang mungkin affordable mampu membeli layanan household broadband hanya 25-30 juta rumah tangga.

“Dengan itu kalau kami bisa lakukan efisiensi banyak di capex, opex, dan lain-lain, kami bisa memberikan penetrasi yang affordable bagi masyarakat. Ini membuat negara kita menjadi kompetitif. Ini satu yang kita lakukan,” pungkas dia.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*